Archive for Desember, 2011


Andaikata dunia itu di bawah satu kerajaan, maka ibu kota yang paling sesuai untuknya adalah konstantinopel.

Konstantinopel berada di daerah turki yang waktu itu dikuasai oleh kerajaan bizantium. Kota konstantinopel dilindungi baik di darat maupun di laut sehingga untuk memasukinya saja sudah sangat susah. Kota ini di darat dilindungi oleh dua dinding pagar yang diantara keduanya ada banyak benteng penyerangan. Di lautan terdapat rantai yang menghalangi kapal – kapal untuk berlayar memasukinya. Namun, sungguh luar biasa, seorang sultan Muhammad Al – Fatih mampu menaklukkannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sungguh. Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik – baik pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukkan)nya dan sebaik – baik tentara adalah tentaranya.”

Perjalanan penaklukan konstantinopel bukanlah seperti sebuah dongeng dimana ada seorang pangeran gagah perkasa yang memiliki keajaiban. Penaklukan konstantinopel sudah di skenario dan di planning bahkan sebelum muhammad Al Fatih dilahirkan.

Kisah penaklukan ini dimulai sejak baru berdirinya kerajaan turki usmani oleh sulthan orkhan bin ustman. Anak dari pendiri kerajaan turki ustmani. Jadi seolah – olah, kerajaan ini dilahirkan untuk menaklukkan konstantinopel. Penaklukan dimulai dengan penyerangan negeri – negeri kecil di sekitar bizantium oleh sulthan murad I. Sehingga, dengan dikuasainya negeri kecil ini, jalan menuju kota konstantinopel semakin mudah. Benteng – benteng pertahanan di bangun di sekitar konstantinopel. Tak hanya itu, dibentuk pula pasukan khusus jannisari yang tak takut mati dan dilatih khusus. Pasukan ini benar – benar menjadi pasukan istimewa.

Masa kecil, sulthan Muhammad Al – Fatih adalah anak yang nakal hingga dia memiliki seorang guru yang bernama Syaikh Aaq Syamsuddin. Syaikh inilah penakluk konstantinopel yang sebenarnya. Karena, dari doktrin dan pemikiran beliaulah muhammad Al Fatih menyerang konstantinopel. Beliaulah otak dan dalang atau bara pemantik adanya kobaran api besar di kota konstantinopel.

Nama aslinya adalah Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-Rumi. Nasabnya bersambung dengan Khalifah Abu Bakar. Lahir di Damaskus pada tahun 792 H (1389 M) dan telah hafal Al – Qur’an pada usia 7 tahun. Belajar di Amasia, kemudian di Aleppo, dan Ankara. Meninggal pada tahun 1459 M.

Beliau mengajar ilmu – ilmu mendasar seperti Al –Qur’an, As – Sunnah, fikih, ilmu islam, dan beberapa bahasa seperti Arab, Persia, dan Turki. Beliau juga mengajar ilmu matematika, astronomi, sejarah dan seni berperang.

Beliaulah yang memerintahkan untuk mempersiapkan dan menyerang konstantinopel kepada sulthan Muhammad Al – Fatih sehingga pecah pertempuran dahsyat selama 54 hari. Dalam pertempuran yang panjang tersebut, kadang pasukan bizantium mengalami kemenangan. Hingga pada suatu waktu, Paus membantu pasukan bizantium dengan mengirimkan 4 kapal perang. Para panglima pasukan dan menteri Ustmani mengadakan pertemuan dan menemui sulthan dengan mengatakan, “Sesungguhnya Anda telah menggerakkan sejumlah besar pasukan Ustmani untuk melakukan pengepungan ini karena menuruti perkataan salah seorang syaikh – maksud mereka adalah syaikh Aaq Syamsuddin. Banyak tentara binasa dan peralatan perang pun rusak. Bahkan lebih dari itu, datanglah kemudian bantuan dari negara – negara Eropa untuk orang – orang kafir yang berada dalam benteng. Keinginan untuk menaklukkan Konstantinopel belum bisa diperkirakan”

View full article »

Asrama ini, selalu saja demikian, mengundang sejuta rindu. Walaupun beberapa hari yang lalu aku sudah mampir ke sini. Asrama ini adalah bagian penting dalam hidupku. Salah satu kunci lemari yang menyimpan kunci – kunci pintu harapan. Aku masuk langsung menuju dapur. Di dapur aku temui bu lek ya (bukan nama yang sebenarnya) yang sedang mencuci piring. Bu lek ya adalah salah satu orang yang berbaik hati membersihkan asrama kami sehingga selalu layak untuk di huni.

“hallo bu lek ya, apa kabar?”

“eh, mas Asraf (bukan nama yang sebenarnya, namun wajah insya Allah tidak beda jauh), dari mana mas?”

“ini bu lek, lari – lari bareng Ardhi”

“aduh mas… arek – arek asrama angkatan saiki susah, dewe – dewe kabeh, pompa bocor gak onok seng benakno. Gak koyok biyen. Onok mas Arwan. Onok barang rusak gak pernah di jarno. Di benakno. Lek saiki. Bener arek’e pinter – pinter. Tapi dewe – dewe. Gak tahu ngramut barang”

“aduh mas… anak – anak asrama angkatan sekarang susah, sendiri – sendiri semua, pompa bocor tidak ada yang memperbaiki. Tidak seperti dulu. Ada Mas Arwan. Ada barang rusak tidak pernah dibiarkan. Di perbaiki. Kalau sekarang? Benar anak – anaknya pintar semua. Tapi sendiri – sendiri. Tidak pernah merawat barang.”

Demikian lah awal pertemuan kita di pagi itu dengan sesi curhat dari bu lek ya yang keluar begitu saja seperti banjir bandang. Aku perhatikan sekitar. Memang air menggenang di mana – mana. Air menggenang biasanya muncul pada waktu hujan deras saja, karena talang air tidak mampu menampung debit air. Juga karena level air di selokan lebih tinggi dari kamar mandi asrama sehingga masuk ke kamar mandi asrama.

Percakapan itu memang sepele. Namun, tak dapatkah kita merasakan sesuatu yang aneh terjadi di sini? Satu lagi dari curhatan bu lek ya yang akan mempertegas kejanggalan itu.

View full article »

Sarjana Teknik Kimia Versus Koki

“jurusan apa mas?” salah satu teman beda jurusan bertanya

“jurusan teknik kimia.” Jawabku

“wah, pasti pintar buat bom ya mas”

 

Di masyarakat kita, istilah kimia adalah sesuatu yang menyeramkan. Banyak kalangan bahkan yang sudah berpendidikan sekalipun menganggap bahan kimia adalah bahan yang berbahaya seperti bahan peledak, obat – obatan atau jenis lain yang tidak alami. Padahal, pada waktu kita SMA dulu saat masih baru kelas 1, kita diperkenalkan istilah kimia. Bahan kimia adalah bahan yang menempati ruang dan memiliki massa. Apa sajakah bahan yang menempati ruang dan memiliki massa? Tentu adalah semua barang yang ada di alam semesta ini. Mulai dari garam dapur hingga manusia itu sendiri. Karena cakupannya yang luas. Maka, hampir semua bidang berkaitan dengan bahan kimia. Jika pada abad ke 19 antara biologi, fisika dan kimia amat jelas perbedaannya. Namun, pada abad ke 20 ini. Perbedaan itu mulai kabur.

 

Lalu bagaimana dengan teknik kimia?

Teknik kimia adalah ilmu yang mempelajari bagaimana sebuah barang yang semula tidak bernilai menjadi sebuah bahan yang bernilai baik dari segi ekonomis atau kemanfaatan melalui proses kimia, fisika atau biologis.

Seorang sarjana teknik kimia bisa juga disebut sebagai sarjana proses. Mereka memiliki skill bagaimana memproses sebuah bahan tak layak menjadi berarti terutama dalam skala pabrik. Sarjana teknik kimia tak ubahnya seperti seorang koki. Seorang koki mengolah dan meracik beberapa bahan mentah menjadi sebuah masakan yang lezat. Maka, teknik kimia meracik berbagai bahan untuk lebih bermanfaat. Untuk membuat sebuah masakan yang lezat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat makanan yang lezat.

Yang pertama, setiap bahan masakan memiliki proporsi yang tepat. Misalkan jumlah garamnya berapa sendok, jumlah gula, bawang merah atau bawang putihnya. Demikian juga dengan teknik kimia.  proporsi dari bahan harus tepat. Jika mau membuat asam sulfat 90 % dari mengencerkan asam sulfat 98 %, proporsi penambahan air harus sesuai agar tidak terlalu encer atau terlalu pekat. Dalam teknik kimia ilmu yang mempelajari bagaimana kita memperoleh proporsi tepat ini adalah dengan menggunakan neraca massa dan neraca energi. Sebuah ilmu yang berdasarkan pada hukum kekekalan massa dan energi. Kedua hukum itu saling berkaitan karena, pencampuran dua bahan dapat menghasilkan panas.

View full article »

“2.8 juta cukup tidak mas?”

Suara itu masih tengiang dalam telingaku hingga saat ini. Walaupun kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu. Angka yang cukup besar jika dihitung dengan jam kerja yang hanya 3 hari. Itupun tidak genap sehari 24 jam.

 

Barang siapa menolong agama Allah. Maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya.

Ayat ini adalah ayat yang menjadi pamungkasnya orang – orang beriman. Sebuah cita – cita untuk menegakkan din yang mulia ini di muka bumi. maka, saat ada kesulitan – kesulitan maka itu adalah ujian yang harus dilalui dengan sabar dan optimis. Optimis dengan percaya diri karena Allah lah yang akan menolong. Maka, siapakah yang lebih kuat pertolongannya selain pertolongan Allah?

 

Ini adalah kisah bersambung, sebuah kisah  tentang perjalanan mengukir lukisan hidup yang penuh makna. Ku tulis dengan menggunakan kata ganti orang pertama. Kau boleh menganggapnya sebagai kisah nyata atau hanya fiktif belaka. Kau boleh menganggap aku benar – benar aku atau orang lain. karena, aku tak memberimu sertifikat atau garansi apa yang kutilis disini adalah realitas atau hayalan dari rangkaian impuls syaraf – syaraf otakku. Aku berharap agar kalian mengambil manfaatnya dan sebarkan manfaat itu kepada orang lain agar kebaikan itu terus menular dan menyebar.

Ini adalah kisah tentang bagaimana aku tanpa keraguan kuliah S1, tentang bagaimana aku keluar pekerjaan karena sebuah idealism hidup, tentang cita – cita Andalusia dan cordoba yang dulu sempat membayang dalam bocah SMP, tentang sebuah nama muslim yang di deretan ilmuan peraih nobel, tentang sebuah ilmu dan teknologi bermanfaat yang terus mengalir layaknya lampu yang terus menyala di seluruh dunia, hingga sebuah kata kerja yang ibuku tancapkan dalam otakku mungkin sejak aku baru dilahirkan “memberi’

Rezeki itu memang sudah diatur. Itulah yang selalu ku pegang agar hatiku senantiasa menjadi tenang dengan pemberian Allah. Karena itu, walaupun beasiswa yang aku peroleh untuk studi lanjut belum pasti. Aku beranikan resiko itu. Aku berpikir, jika aku telah melalui S1 yang waktunya 2 tahun mengapa aku tidak melalui S2 yang hanya 2 tahun. Maka aku mulai mengikat ikat pinggang dan memperkuat punggung agar bisa bertahan. Usahaku selama ini hanya menjadi guru privat mahasiswa karena aku pikir usaha ini yang benar – benar sejalan dan tak mengganggu belajarku. Bahkan, dengan jadi guru privat mahasiswa aku lebih sering membuka – buka buku masa lalu yang sudah terlupakan di tumpukan kardus sana.

View full article »

“Kita beri tema training ini dengan training yang ngangeni (membuat rindu)”, kata salah seorang panitia saat technical meeting.

 

 

Awalnya kata – kata itu kita sambut dengan tertawa. Salah seorang dari kami malah berkomentar. “paling panitia gak ada tema lain”. Sontak aku cekikikan. Ya, demikianlah kesan pertama dari pelatihan outbond yang aku ikuti. Sebut saja Training Semangat (TS) karena, memang efek sampingnya adalah bertambahnya semangat 100 kali lipat dari biasanya.

 

Sebenarnya, bersamaan dengan diadakannya TS ini aku juga ada acara Welcome Party di Laboratorium penelitianku saat ini. Semua anggota Laboratorium ikut. Rencananya kita akan pergi ke Probolinggo dan rafting di sana. setiap orang dikenakan biaya sekitar 400.000,- untuk biaya akomodasi dan lainnya. Hanya saja, karena aku merasa kesulitan dengan biaya itu (maklum beasiswa belum cair), teman – teman anggota Lab bersedia untuk membayariku. Sehingga, aku cuma tinggal bawa baju saja dan berangkat.

 

Dengan itu semua, aku merasa tidak enak jika harus mengecewakan para anggota Lab dan aku memilih untuk ikut. Hingga pada pekan terakhir sebelum hari H, bahkan H-3 hari. Aku memutuskan untuk ikut TS saja. Karena, acara TS bukan hanya acara training biasa. Namun, training yang diadakan untuk mengasah spiritual kita. Aku yakin. Allah akan menolong jika kita menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Biarlah Allah yang menyelesaikan.

 

Tentu saja teman – temanku kecewa sekali. Tak apalah. Aku tetap tidak ikut dan memesang telinga tembok.

TS diadakan pada hari jum’at hingga minggu di tempat wisata. Jangan kira tempat wisatanya rame karena tempat wisata yang dipilih adalah hutan reservasi. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Dan kelompokku adalah kelompok yang aku anggap paling lugu. Karena, kita membawa peralatan seadanya. benar – benar standart dan sesuai dengan yang dikatakan oleh panitia. Kelompok lain bahkan membawa kompor gas termasuk tabung elpigi 3 kg dan satu kardus mie instan. Sedangkan kelompok kita hanya membawa beras, snack dan telur rebus.

View full article »

Sosok Luar Biasa 3

Mereka menjadi mutiara ditengah padang pasir. Mereka menjadi berlian diantara kerikil – kerikil. Mereka adalah orang – orang istimewa.

Seperti pada sosok luar biasa sebelumnya. Sosok ini tak ada bedanya.dengan sosok sebelumnya. Mereka sama – sama istimewa dan berbeda dari pemuda lainnya. jika sosok pertama, begitu antusiasnya menyambut panggilan adzan. Sosok ini juga demikian. Jika sosok pertama begitu kuatnya mengangkat kelopak mata di sepertiga malam. Maka sosok ini juga demikian. Ia, bahkan tak merasakan apa – apa. Jika sosok pertama begitu kritisnya dengan persoalan pemerintahan. Maka, sosok ini mengambil jalan atau bidang lain yang tak kalah penting. Dia begitu fokusnya dengan pembinaan akhlaq bangsa ini. Maka, kedua sosok ini saling melengkapi. Jika sosok pertama begitu peduli dengan kondisi setiap orang. Maka sosok ini juga demikian, bahkan lebih lagi. Dia menjadi pendengar yang luar biasa. Jikalau kau meu bercerita, maka disambutnya dengan antusias, tak ditampakkannya rasa lelah yang telah menggunung. Dia, selalu tampil dengan performa terbaiknya setiap bertemu dengan saudara – saudaranya. Sehingga sosok dekil seorang muslim sirna jikalau dia ada. Hafalannya luar biasa. Apalagi suaranya. Aku sering menyebutnya dengan panggilan “Maher Zain”. Jika sosok pertama lebih pantas menjadi seorang orator atau politisi atau duduk di gedung dewan bersama wakil rakyat lain. Maka sosok ini lebih cocok untuk menjadi seorang ustadz. Ada sebuah bakat atau hadiah yang diterima dari Allah SWT kepadanya. Suara emas. Demikianlah aku menyebutnya. Sehingga, mungkin pada kondisi biasa. Dia lebih mirip artis dari pada ustadz, apalagi penampilan mendukung. Sosok ini telah sejak dulu bertetengger di level 1. Selain amal yauminya, hafalannya, luas ilmu masalah agama, bakat alaminya untuk menjadi artis, betapa berkilau akhlaqnya, dia juga tak pernah kehilangan semangat dan motivasi. Senyumnya merekah saat bertemu siapapun. Harusnya memang demikian. Apalagi Indonesia telah memproklamirkan sebagai bangsa yang ramah di dunia internasional.

Salah satu peserta bertanya pada seorang ustadz di sebuah pertemuan.

“Ustadz, waktu kuliah dulu, saat saya berkecimpung di dakwah kampus. Sangat mudah untuk merekrut teman – teman saya. Sangat mudah untuk membuat kajian yang kita selenggarakan menjadi semarak. Namun, saat saya telah lulus dan mulai merambah ke dakwah kampung. Jangankan untuk merekrut dan mengajak menjadi panitia, untuk mendatangkan mereka hadir dalam pengajian saja susahnya luar biasa.”

Itu adalah salah satu bentuk pertanyaan yang saya yakin banyak diantara kita yang memilikinya. Sehingga kadang salah seorang kader dakwah, agar dakwahnya diterima. Harus menanggalkan segala bentuk atribut islam yang sudah sejak lama disandangnya. Sebenarnya, saya tidak setuju dengan menempuh jalan ini. Ibaratnya kita menelanjangi diri sendiri setelah berpakaian. Jikalau memang benar agama ini adalah agama yang terbaik. Maka, tak perlulah seorang juru dakwah harus menanggalkan atribut islamnya. Tak perlulah seorang akhwat mengecilkan pakaiannya. Lalu apakah yang salah sebenarnya?

Si ustadz balik bertanya kepada penanya, “akhi, seharusnya, saya yang harus bertanya kepada antum mengapa itu ternjadi?, jikalau antum adalah orang yang pertama dating ke masjid dan orang terakhir yang meninggalkan masjid. Mengapa antum tak bisa mengajak para takmir masjid. Jikalau antum benar – benar mengamalkan adab kepada tetangga dalam islam. Mengapa antum tak mampu mengajak tetangga di kanan kiri rumah antum. Jikalau antum adalah orang pertama yang menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Mengapa antum tak mampu meminta mereka.”

Benar. Saat dikampus. Kita berada dalam kalangan yang homogen yaitu kalangan intelektual. Maka, kita sentuh kebutuhan mereka dengan intelektual. Sedangkan di kampung, ada banyak kalangan di sana. mulai yang berpendidikan tinggi sampai yang tak pernah sekolah. Mulai yang ustadz hingga kalangan preman. Mulai saudagar kaya hingga miskin papa. Semua ada di sana.

Untuk itu, saat memasuki dakwah kampung. Seorang kader dakwah harus mampu menjadi kader yang adaptif dan solutif. Kader yang mampu beradaptasi dan memberikan solusi. Kader yang solutif adalah kader yang jika ada permasalahan dia mampu menyelesaikan permasalahan. Rasulullah SAW saat terjadi perselisihan siapakah kabilah yang layak memindahkan batu hajar aswad. Beliau menjadi solutif dengan menghamparkan sorbannya, meletakkan batu diatas sorbannya dan setiap kabilah bisa bersama – sama memindahkan batu hajar aswad.

View full article »

Perjalanan Lawu 2

Jika ada yang bilang kekuatan pikiran itu mempengaruhi tubuh kita. Aku katakan itu benar!

Sebenarnya ini cerita bagian dua dari perjalananku untuk liburan bersama teman – teman asrama ke lawu. Awalnya aku tidak mau ikut karena sedang KP dengan jarak yang lumayan jauh. Cilegon. Memang KPku pada hari sabtu dan minggu libur. Namun, perjalanan cilegon – madiun tidak dapat ditempuh dalam waktu 1 jam bukan?

Singkat cerita akhirnya, pada satu minggu sebelumnya, aku pergi ke Jakarta bertemu dengan salah satu teman seasramaku yang kebetulan sedang di Jakarta dan rumahnya juga di Jakarta. Dan kami akhirnya mendapatkan ide cukup brilliant. Aku izin untuk tidak masuk KP karena ada urusan keluarga. He. Keluarga asrama. Selama 2 hari. Jum’at dan senin. Aku berani izin untuk tidak masuk KP karena ada teman KP dari ITB yang boleh tidak masuk karena ada urusan keluarga.

Perjalananku dimulai dengan naik bis jurusan cilegon kampong rambutan pada hari kamis malam langsung sepulang dari KP. kemudian aku dijemput oleh temanku dan menuju rumahnya. Bermalam di rumahnya dengan hidangan yang cukup wah. Hari jum’at kami naik kereta menuju madiun dari stasiun Jakarta kota. Huh. Perjalanan menuju madiun cukup menarik. Karena, pada waktu subuh telah menyingsing. Kereta masih terus berjalan. Kami berdua duduk bersebelahan. Di depan kami ada seorang ibu – ibu. Kami sholat subuh di kereta dan sontak si ibu itu sedikit terkejut melihat kami walaupun tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Pagi sekitar jam 5.30 kami tiba di stasiun madiun. Masih sepi. Kami telpon teman – teman yang lebih dulu tiba di madiun untuk mejemput kami. Sebelum naik gunung lawu kami memang berkumpul lebih dahulu di salah satu rumah teman kami di madiun. Persiapan.

Di rumah teman kami di madiun. Semua berjalan lancar. Tak ada yang tak menyenangkan. Sekitar jam 9 pagi kami mulai berangkat menuju magetan dan mampir dulu di telaga sarangan. Kami menikmati hangatnya mie kuah dan mencari sayuran untuk perbekalan setelah sampai atas. Kami membawa banyak perbekalan. Mulai dari tenda dan peralatan masak tentu saja dengan bahan makanan mentah. Sesuatu yang nantinya tidak akan berguna.

View full article »

 

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata : “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir.
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang”.
Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata : “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya ; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah ; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.
Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar” [An-Naml : 20 - 26]

Ini adalah salah satu kisah dari sebuah burung yang bertugas untuk mengadakan pengintaian. Nabi sulaiman memiliki berbagai pasukan yang tak hanya terdiri dari manusia. Namun juga dari kalangan binatang dan jin. Nabi sulaiman pernah berdoa agar di beri kerajaan yang belum pernah dimiliki oleh orang sebelumnya dan akan dimiliki oleh orang setelahnya.

Ada banyak hal yang dapat dipetik pelajaran dari kisah burung hud – hud. Salah satunya yang sangat berkaitan dengan seorang kader dakwah apalagi seorang jundi yaitu saat adanya undangan rapat. Pengalaman, seorang kader dakwah kampus baik yang pemula atau sudah professional banyak yang meremehkan sebuah rapat atau syuro’. Apalagi yang mengundang adalah teman akrab sendiri. Maka, keterlambatan dan izin serta kata maaf atau afwan akan menjadi bumbu yang tak pernah hilang.

View full article »

Sosok Luar biasa Edisi 2

“Orang yang luar biasa tidak diturunkan dari langit. Namun mereka ada karena mereka melewati proses yang luar biasa.”

Ada banyak orang yang telah aku temui selama hidupku. Namun sampai saat ini hanya segelintir orang yang benar – benar aku angkat topi untuk mereka. Jumlahnya tak sampai lengkap mengisi sepuluh jariku. Bahkan tak sampai memenuhi jari tangan kananku. Mereka adalah orang – orang yang memang luar biasa. Berjiwa pahlawan. Aku kategorikan mereka sebagai orang level 1. Sosok yang sempurna walaupun istilah ini cukup lebay. Setidaknya mereka mendekati sempurna dalam standarku. Hampir semua sisi ada pada mereka. Hingga saat ini cuma ada 2 orang.
Sebenarnya ada juga orang level 2. Mereka aku kategorikan memiliki sesuatu yang patut dibanggakan. Bisa satu atau beberapa hal saja. Namun, lemah dalam hal lain. Saat ini juga ada 2 orang.
Baiklah. Keempat orang ini Insya Allah akan aku kisahkan satu persatu.
Yang pertama adalah seseorang yang aku bertemu dengan tidak disengaja. Bahkan tak pernah ada bayangan atau hayalan atau mimpi atau apapun saja yang nantinya aku akan mengenalnya. Tetapi, ternyata kami akan menjadi sebuah saudara. Sesuatu yang tak terduga.
Orang ini berada di level 1 berdasarkan versiku. Awal mulanya adalah ketika kami pulang bersama dari sebuah acara pada tengah malam. Kami sempat mampir ke sebuah warung kopi dan memesan beberapa makan malam ke penjual lain. Kebetulan dia belum makan malam dan walaupun saya sudah makan, jika diajak makan, saya 80% tak pernah menolak. Saya memesan nasi goreng dan dia memesan tahu tek (makanan khas Surabaya). Nasi gorengku tiba terlebih dahulu hanya beberapa menit setelah memesan. Sedangkan tahu teknya tak datang – datang hingga sekitar 1 jam kemudian. Dari sini aku mulai mengamati apa yang dibicarakan oleh bersama temanku yang lain. Kami tidak pergi berdua. Masih ada 3 orang lain yang ikut bersama kami.
Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.090 pengikut lainnya.