Asrama ini, selalu saja demikian, mengundang sejuta rindu. Walaupun beberapa hari yang lalu aku sudah mampir ke sini. Asrama ini adalah bagian penting dalam hidupku. Salah satu kunci lemari yang menyimpan kunci – kunci pintu harapan. Aku masuk langsung menuju dapur. Di dapur aku temui bu lek ya (bukan nama yang sebenarnya) yang sedang mencuci piring. Bu lek ya adalah salah satu orang yang berbaik hati membersihkan asrama kami sehingga selalu layak untuk di huni.
“hallo bu lek ya, apa kabar?”
“eh, mas Asraf (bukan nama yang sebenarnya, namun wajah insya Allah tidak beda jauh), dari mana mas?”
“ini bu lek, lari – lari bareng Ardhi”

“aduh mas… arek – arek asrama angkatan saiki susah, dewe – dewe kabeh, pompa bocor gak onok seng benakno. Gak koyok biyen. Onok mas Arwan. Onok barang rusak gak pernah di jarno. Di benakno. Lek saiki. Bener arek’e pinter – pinter. Tapi dewe – dewe. Gak tahu ngramut barang”
“aduh mas… anak – anak asrama angkatan sekarang susah, sendiri – sendiri semua, pompa bocor tidak ada yang memperbaiki. Tidak seperti dulu. Ada Mas Arwan. Ada barang rusak tidak pernah dibiarkan. Di perbaiki. Kalau sekarang? Benar anak – anaknya pintar semua. Tapi sendiri – sendiri. Tidak pernah merawat barang.”
Demikian lah awal pertemuan kita di pagi itu dengan sesi curhat dari bu lek ya yang keluar begitu saja seperti banjir bandang. Aku perhatikan sekitar. Memang air menggenang di mana – mana. Air menggenang biasanya muncul pada waktu hujan deras saja, karena talang air tidak mampu menampung debit air. Juga karena level air di selokan lebih tinggi dari kamar mandi asrama sehingga masuk ke kamar mandi asrama.
Percakapan itu memang sepele. Namun, tak dapatkah kita merasakan sesuatu yang aneh terjadi di sini? Satu lagi dari curhatan bu lek ya yang akan mempertegas kejanggalan itu.
“mas, mas, sama saja dengan asrama putrinya. Gak ada yang mau beres – beres. Gak ada yang ngajak ngobrol aku. Cuma mutiara aja yang ngajak ngomong. Cerita ini. Cerita itu. Lainnya, masuk kamar sendiri – sendiri”
Sudahkah anda merasakan kejanggalan?
Mari kita sedikit menengok sirah nabawiyah. Kisah Rasulullah SAW dengan orang – orang di sekitarnya. Bagaimana Beliau menjadi tokoh masyarakat dan menjadi yang terbaik akhlaqnya sehingga semua mengaguminya.
“Beliau adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Beliau sangat dermawan, paling dermawan di antara manusia. Pada bulan Ramadhan, beliau lebih dermawan lagi, lebih kencang memberi dibanding angin yang berhembus.
Jika memilih urusan, beliau pilih yang paling mudah selama tidak melanggar syariat Allah. Beliau sangat menghindar dari dosa. Jika diri beliau dizalimi, beliau sangat sabar. Namun, jika hak Allah yang dilanggar, beliau sangat murka.
Sangat pemalu melebihi gadis pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, langsung terlihat pada raut wajahnya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau suka maka dimakanlah makanan itu. Jika tidak suka, maka beliau tinggalkan tanpa mencelanya.”
(Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 3549, 35554, 3560, 3562, dan 3563)
Maka, Allah SWT sendiri yang memberikan sertifikat akhlaq mulia kepada Rasulullah SAW.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam : 4)
Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, telah mencontohkan bagaimana adab bertetangga dan kemuliaan dalam berbuat baik terhadap tetangganya.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab : 21)
Terkait dengan tulisan saya sebelumnya. Dalam memasuki dakwah kampung, masyarakat membutuhkan seseorang yang solutif dan adaptif. Solutif dalam menyelesaikan permasalahan mereka dan mampu berbaur dengan mereka. Pentingnya solutif dan adaptif ini telah terbukti dalam contoh kecil kehidupan di asrama di atas. Nilai yang bagus dan otak yang encer tak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat. Mereka tidak akan melihat berapa besar IQ anda dan berapa tinggi IPK anda. Masyarakat hanya melihat bagaimana anda bergaul dengan mereka dan bagaimana anda memberi manfaat kepada mereka.
“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).








Memang, yang namanya mas arwan dalam suatu generasi itu hanya satu.
Bayangkan jika ada 20 mas arwan dalam satu generasi, pasti tiada dikenal mas arwan itu di muka bumi. Mas arwan memahami benar bagaimana menjadi seorang uswah, tidak sekedar itu, bahkan menjadi qudwah.
Menjadi mas arwan itu pilihan dan jarang plus sedikit sekali yang bersedia menjadi mas arwan.
Nah, bagaimana dengan bang Asraf?
orang yang luar biasa memang hanya segelintir. Orang yang memiliki pikiran penggagas dan pejuang perubahan memang tak banyak dan menjadi seolah hukum alam. Jangan sampai kita juga menjadi tersesat dan terlena dengan hukum alam tersebut. Karena, tak ada yang tahu. justru kitalah orang yang segelintir itu jika anda membuang kenyamanan akan hukum alam itu.
Penekanannya bukan seberapa banyak, atau seberapa di kenal. Penekanannya adalah, seberapa bermanfaat pada diri tiap muslim.
Bisa jadi seseorang penuh sejuta prestasi, namun, untuk apa jika prestasinya hanyalah berupa torehan tinta di selembar kertas atau beberapa angka di buku rekening, atau pengakuan melalui media yang lain. Tapi, ada prestasi lain yang sekiranya lebih bermakna, tak hanya untuk hatinya. Juga untuk mereka, yang karena tetes air mata mereka, Allah menunda mengirimkan bencananya di muka bumi ini.