Jika saya menjadi salah satu presiden direktur dari perusahaan yang menyumbangkan dana untuk Israel dan mendengar kata – kata, “boikot produk Israel” pasti saya hanya akan tertawa terbahak – bahak.
Beberapa tahun yang lalu, saat israel menyerang Palestina dengan bom – bomnya. Banyak kalangan aktifis dakwah yang menyebarkan slogan “boikot produk Yahudi”. Ada banyak perusahaan yang masuk dalam daftar hitam karena tercatat sebagai penyumbang dana terhadap israel. Mulai dari perusahaan makanan, intertainment, media, komunikasi, peralatan elektronik, hingga kosmetik. Slogan boikot produk Yahudi atau yang menyumbang kepada Yahudi berkembang menjadi jika kau memakan produk itu sama saja kau memakan darah dan daging anak – anak Palestina yang syahid karena bom israel.


Sebagian kalangan pro dan mendukung terhadap program ini. Tak kalah sedikit yang bersimpangan. Mulai dari sekedar menolak, membantah karena tidak solutif, berdebat, hingga mencibir. Memang tak mudah untuk memboikot sedemikian banyak dan beragam produk – produk yang sudah menjadi bagian bahkan kebutuhan primer dalam hidup. Lebih berat lagi jika produk itu tidak ada penggantinya atau tak ada produk yang sebanding dengannya. Bisa – bisa kita mengalami kemunduran 100 tahun lebih primitif dari bangsa Yahudi. Tengok saja misalkan Laptop atau komputer yang anda gunakan untuk membaca blog ini. Merk apakah prosesornya? Kita tak dapat menutup mata, bahwa jika kita benar – benar memboikot maka kekalahan sebenarnya mutlak ditangan orang muslim.
Dari segi teknologi informasi misalkan. Kita tak lagi memakai windows atau microsoft. Lalu, apakah kita akan menggunakan mesin ketik untuk menulis? Bukan solusi karena keuntungan yang didapatkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerugian yang diperoleh. Dalam memutuskan sebuah perkara tak hanya masalah hitam dan putih. Coba lihat perjanjian Hudaibiyah yang bagi banyak kalangan merugikan ummat Islam namun justru saat itulah momentum kemenangan di mulai. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan yang goal akhirnya adalah kemenangan Islam.


coba kita berhitung sejenak. Berapa persen jumlah ummat yang beriman di negeri ini sehingga dia mau melepaskan kenyamanan produk Yahudi? Lalu coba kita bandingkan seberapa banyak pembeli produk Yahudi dari orang beriman tersebut dibandingkan dengan yang tidak beriman? Jika melihat kondisi ummat muslim saat ini yang jauh dari kata kaya, terpelajar dan berkarakter muslim. Saya yakin walaupun tak memiliki data pasti, jumlah mereka tak signifikan. Ibarat buih di lautan. Ibarat busa yang sebentar lagi akan hilang.
Lalu apa solusinya?
Maka, dakwah bidang akademis dan profesi berperan disini. Keberadaan ilmuan – ilmuan muslim yang inovatif dan solutif sangat dibutuhkan. Ditangan merekalah seharusnya banyak teknologi dilahirkan sehingga tak perlu lagi mengemis kepada produk orang Yahudi. Kenyataannya, Ilmuan – ilmuan itu bukanlah para terpelajar yang saat kuliahnya hanya membicarakan, “dosen ini bagus – bagus tidak nilainya?” atau mereka yang hanya berkata, “kalau dengan B atau seminar nasional saja bisa lulus, untuk apa dapat A atau seminar internasional”. Ya, kegagalan banyak kalangan terpelajar muslim adalah sejak kecil, mereka tidak dididik untuk kreatif dan solutif. Mereka tidak dididik untuk survive diberbagai kondisi yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Mereka kebanyakan dididik untuk menyelesaikan tugas atau soal yang dibuat oleh guru atau dosen mereka. Mereka bahkan tidak diperkenalkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah dari sebuah karya ilmiah atau teknologi. Kita memiliki banyak ilmuan muslim dengan sederet gelar akademis namun tak produktif. Berani bertaruh? Ada berapa banyak profesor di kampus anda dan hitung berapa banyak buku atau minimal jurnal ilmiah yang diterbitkan. Lebih memalukan lagi dengan Pdnya mereka merasa diatas angin.


Andai saja kita memiliki 10 orang saja orang seperti syaikh Aaq Syamsuddin, tak perlu lagi kata – kata boikot itu terdengar. (lebih lengkap tentang Syaikh Aaq Syamsuddin baca di sini)