Tiba – tiba ada SMS masuk,

“mas, waktu pendaftaran beasiswanya tidak bisa diperpanjang?”

Sambil terheran dalam hati, bukankah pengumuman pendaftaran beasiswa ini sudah lama, di FB di SMS, namun tidak ada seorangpun yang menanggapi. Sampai stress harus siapa yang direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Akhirnya aku balas

“tidak bisa, karena sudah lama diumumkan”

Beberapa saat kemudian langsung ada balasan,

“tolonglah mas, ini sangat membutuhkan”

Loh? Aku semakin jengkel dalam hati. Membutuhkan kenapa tidak siap siaga? Kenapa tidak respon sejak lama. Padahal sampai – sampai yang memberi beasiswa harus terjun langsung. Karena sampai batas waktu, tak ada satupun yang mendaftar bahkan memberikan komentar di group FB kami.

Namun, karena aku teringat dengan masa kuliahku dulu yang disokong oleh beasiswa dan tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang membutuhkan beasiswa. Aku balas agar yang bersangkutan mengirimkan CV nya ke alamat emailku.
Tak berselang sehari, email berisi lampiran CV aku terima.
Aku download dan ku baca identitas dirinya.
Alasan utamanya adalah memang kesulitan ekonomi. Sebenarnya jika dibandingkan dengan mahasiswa lain, mahasiswa  ini tergolong ekonomi lemah dan membutuhkan beasiswa. Yang aku sesalkan adalah kemanjaannya waktu mengSMS diriku seolah – olah dia benar – benar tak berdaya.

Orang tuanya adalah pedagang dengan penghasilan 1750000 perbulan. Jumlah sedikit, namun, lebih sedikit mana dengan penghasilan seorang tukang becak?. Dia dikirimi uang sebesar 750000 perbulan jumlah yang besar menurutku. Karena jatahnya setiap hari lebih dari 20000. Hanya saja, alasan dia adalah makan “Cuma” 2 kali, dan harga makanan di warung 7000.

Ini yang aku sesalkan. Ada banyak warung yang menjual makanan seharga 5000 bahkan 3500. Kenapa harus memilih 7000? Ada banyak mahasiswa yang dia mampu makan sehari 2 kali. Namun kenapa mengeluh dengan dirinya 2 kali.

Faktor penyebabnya ada dua, pertama karena memang hatinya lemah, sehingga, sedikit saja lebih susah dari temannya sudah banyak mengeluh. Seolah – olah dia yang paling membutuhkan. Kedua adalah dia tidak mampu beradaptasi dengan dirinya sendiri. Jikalau kemampuannya demikian, buatlah sekreatifitas mungkin agar uang sejumlah itu bisa dicukup.

Toh Rasulullah juga pernah mengganjal perutnya dengan 2 buah batu. Sudahkah anda melakukannya?
Maaf, jika anda berpikir saya kejam, tak berperi kemanusiaan atau tak tahu kesusahan orang lain. Maaf, sekali lagi maaf. Saya sudah pernah berada dalam kondisi jauh di bawah dari yang di atas. Jauh. Tapi, saya tak akan pernah mau mengeluh. Tak akan pernah kecuali kepada yang memberi saya rezeki. Allah SWT.

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupi (kebutuhanmu).…” (QS At-Thalaq [65]: 3).
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud : 6)

wallahu’alam